Jumat, 27 April 2012
Pak Notho; Belajar dari Sosok yang Tegas dan Disiplin
Selasa, 17 April 2012
Kiai Basjir, Barokah Minuman Ada di Tetes Terakhir
Barokah Minuman Ada di Tetes Terakhir
Ini adalah tulisan kedua saya dalam serial “Kenangan Bersama Guru”. Mungkin tak banyak siswa yang pernah diajar beliau di sekolah. Sebab, beliau termasuk guru yang “minim” jam pelajaran. Dalam seminggu, kalau tak salah di kelas saya hanya mengajar satu atau dua kali pertemuan.
Pelajaran yang beliau ajarkan adalah ilmu faraidh. Sebuah ilmu yang tak banyak dikuasai orang. Dalam setiap pelajaran, salah satu hal yang beliau wajibkan bagi kami adalah menghafalkan nadhom faraidh (saya lupa nama kitabnya). Maksudnya, nadhom yang dibahas pada minggu ini akan menjadi kewajiban kami untuk menyetorkan hafalan di minggu depannya. Biasanya tak banyak juga hafalan nadhomnya. Terkadang 2 atau 3 bait saja. Bahkan pernah juga 1 bait.
Kamis, 18 September 2008
Cak Ud, Sukses Saat Masih Muda
Cak Ud, begitu dia akrab dipanggil, mendirikan usaha lantaran adanya keterdesakan hidup yang kian sulit di Ibu kota. Barangakali ia bukanlah satu-satunya orang yang yang mandiri karena keterdesakan. Tetapi, paling tidak, ia adalah salah satu profil muda yang patut diacungi jempol. Pada saat teman-temannya mengeluh karena sulitnya hidup jauh dari kampung halaman, Cak Ud bangkit dari keluh kesah. Ia melangkah bersama teman-temannya yang lain, membangun usaha kecil-kecilan. Mereka menyedut diri sebagai PARAMUDA, anak-anak muda, yang tak gampang menyerah.
Awal mula usaha yang dibangun adalah di bidang percetakan. Pertama kali mencanangkan bisnis ini, tak ada yang bisa dikerjakannya. Namun, Cak Ud bersama anak-anak muda lainnya tak lantas berputus asa. Mereka terus berusaha. Sedikit demi sedikit hasilnya pun mulai tampak. Cak Ud masih ingat, pertama kali ia menerima order adalah satu paket pembuatan kartu nama. Kemudian, menyusul leflet, brosur, poster, dan beberapa media promosi kecil-kecilan yang dipesan oleh teman-temannya sesasa mahasiswa. Dari hari ke hari, bulan berganti bulan, order cetakan mereka pun makin bertambah. Cak Ud dan kawan-kawan senang bukan kepalang.
“Saya sebenarnya tak punya background dan pengalaman di bidang ini,” ujarnya. Ya, benar. Saat mendirikan PARAMUDA, Cak Ud memang tidak berbekal pengetahuan yang cukup. Meski bisa menyelesaikan S1-nya, toh tak cukup membantu usahanya. Namun, berkat ketekukan dan semangat pantang menyerah—apalagi dia sering kebagian tugas mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan kertas dan cetak mencetak—pengetahuannya pun semakin bertambah.
Kini, PARAMUDA kian berkembang. Tak hanya percetakan, PARAMUDA di bawah bendera PARAMUDA GROUP juga bergerak di bidang penerbitan dan distribusi buku. Beberapa buku telah berhasil diterbitkan di bawah nama Penerbit Cendekia Muda. Sedangkan Paramuda Bookstore bergerak di bidang distribusi buku.
Selain itu, PARAMUDA GROUP juga beberapa kali mengadakan kegiatan pengembangan diri dan potensi, di antaranya adalah Pelatihan Servis Handphone, Pelatihan Kemandirian untuk Remaja, Pelatihan Peta Masa Depanku, dan lain sebagainya.
Kini, Cak Ud, pemilik PARAMUDA, masih tetap muda (belum menikah, hehehe). Bahkan, yang membuat angkat topi, dia masih sempat berkumpul-kumpul atau rapat dengan junior Wasiat yang jauh di bawahnya. Juga, masih sempat “ikut-ikutan” ngurusi kegiatan Wasiat. Kesederhanaan dan kebersahajaannya terlihat di sini.
Jika kekayaan sebagai ukurannya, maka Cak Ud adalah profil muda yang bisa dikatakan sukses. Dia sudah memiliki sebuah ruko 3 lantai dan sebuah mobil Avanza, selain juga sibuk bekerja di Departemen Agama dan menjadi Kepala Sekolah Al-Nahdlah di Pondok Petir Sawangan Depok.
Mungkin, banyak yang “iri” dengan kemapanan Cak Ud hari ini. Banyak juga yang tidak melihat bagaimana sesungguhnya Cak Ud dulu—saat mengalami masa-masa prihatin di Jakarta. Dia sempat mengalami masa-masa melarat—titik nadir dalam bahasa Cak Ud. Di mana waktu itu dia sempat berpuasa Daud (sehari puasa, sehari tidak) selama 2 tahun. Dan, kebiasan puasa ini masih berlanjut hingga sekarang saat sudah sejahtera—dengan puasa senin-kamis. Rahasia lain yang tidak pernah diungkapkan kepada banyak orang adalah kebiasannya bangun malam untuk bermunajat kepada Allah Swt. Selain itu, didukung dengan sedekah rutin kepada yang membutuhkan ataupun yang “tidak membutuhkan”.
(Adaptasi dari Profil Cak Ud yang dimuat di majalah Syir’ah dengan judul “Yang Muda Yang Menggeluti Dunia Usaha”, edisi Februari 2006. Ditulis ulang oleh Moh. Shorih Al-Kholid)
Selasa, 08 April 2008
Drs. Moh. Dja’far Hasan, MM. (bag. 2)
Prestasi Dj’afar makin pun meningkat. Kemudian dia dikirim ke Bandung. Setelah itu dia dipindahkan ke ke Sumatera untuk menyelesaikan proyek pembangunan stasiun di sana. Selesai di Sumatera, ia harus berpindah lagi ke Ibukota untuk proek pembangunan Instalasi Kereta Api Listrik (KRL) Jabotabek.
Sekitar setahun lamanya, pekerjaan sebagai konsultan Perusahaan Kereta Api dijalankannya dengan baik dan sungguh-sungguh. Namun, karena beberapa hal yang kurang sreg dengan nuraninya, dia memutuskan keluar.
Lewat seorang teman, Dja’far ditawari masuk Lembaga Pendidikan Al-Azhar, Jakarta, yang membutuhkan tenaga pengajar. “Lagi-lagi karena kolega, saya mendapatkan pekerjaan ini,” ujarnya seakan mengingatkan pentingnya teman dalam kelanjutan karier seseorang.
Dari pekerjaan mengajar waktu itu, Dja’far digaji Cuma 87 ribu/bulan. Jika dipotong uang kos yang 75 ribu/bulan, betapa minim penghasilannya bila dibandingkan dengan pekerjaannya sebelumnya. Akan tetapi, profesi mengajar ini dijalankannya dengan sungguh-sungguh. Apalagi ia seperti dipertemukan kembali dengan dunianya. Dalam pikiran Dja’far saat itu hanyalah bagaimana mengamalkan apa yang dia miliki dan ketahui. Tidak lagi dia memikirkan gaji yang diterima. Dia berkeyakinan, jika dia mengerjakan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil yang berkualitas dan setelah itu barulah orang lain yang akan melihatnya. Beliau mengutip firman Allah SWT: “Dan berbuatlah, niscaya Allah, Rasul, dan orang-orang yang beriman akan melihatnya.”
Saat ini, di Al-Azhar, Dja’far menduduki jabatan sebagai Kepala Sub Perencanaan Pengembangan Pegawai, yang bertugas merekrut pegawai, mengembangkan SDM pegawai, dan menata karier pegawai.
Di samping itu, kesibukannya yang lain adalah sebagai trainer dan konsultan pada berbagai proyek di beberapa departemen Pemerintah. Menulis juga menjadi salah satu aktivitas sampingan beliau. Walaupun belum ada yang diterbitkan dalam bentuk buku, beberapa naskahnya bahkan telah difilmkan. Di antaranya adalah skenario yang difilmkan oleh Organisasi Buruh Dunia (ILO) sebagai bahan training bagi para buruh. Beberapa naskah lainnya juga pernah difilmkan oleh Depnaker dan Kepolisian sebagai bahan pelatihan kepegawaian di departemen masing-masing. Pernah pula beliau merancang kurikulum pelatihan untuk kepala sekolah.
Kini, sejumlah obsesi masih menggantung di benak Dja’far. Pendidik yang tinggal di Depok ini berharap suatu saat ia dapat menciptakan lembaga pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak kurang mampu. Sekolah berkualitas tanpa dipungut biaya. (Yamboo)
(tulisan ini pernah dimuat di buletin Al-Washiyyah edisi April 2006)
Drs. Moh. Dja’far Hasan, MM.
Sejak kecil, pria yang menempuh pendidikan tingkat MTs dan MA (dulu PGA 6 tahun) di Tarbiyatut Tholabah ini memang punya minat besar pada yang namanya belajar. Baginya, minat belajar tidak boleh berhenti sampai kapan pun dan di mana pun. Sekolah haruslah menjadi kegiatan utamanya. Belajar tidak terbatas pada apa yang didapat di bangku sekolah.
Mengapa? “Karena apa yang didapat di bangku sekolah hanyalah sekadar bahan. Kita harus bisa mengembangkan bahan tersebut dengan banyak menggali dari apa-apa yang ada di sekitar kita. Selain itu, aktivitas belajar juga bisa dilakukan dari siapa pun dengan banyak bergaul. Orang yang ingin sukses, harus banyak menambah (ilmu) dan banyak bergaul,” beber Pak Dja’far mantap ketika ditemui Al-Washiyyah.
Awalnya, selepas PGA 6 tahun, Dja’far berkeinginan masuk jurusan ekonomi. Namun, keterbatasan kemampuannya saat itu membuat ia harus menerima kenyataan tidak diterima di jurusan impian tersebut. Saat itulah abangnya yang mengetahui bakat Dja’far di bidang belajar-mengajar, menyarankan untuk masuk di IKIP Surabaya. Saran tersebut diterimanya begitu saja. Ternyata setelah masuk kuliah, barulah dia merasakan asyiknya. Bahkan, baru di semester awal, beliau sudah aktif nyambi mengajar di tiga sekolah. Pada masa kuliah itu pula, beliau telah menjabat sebagai wakil kepala sekolah di salah satu SMP di Surabaya.
Lulus kuliah, Dja’far ingin mencari tantangan lain. Tanpa sungkan, dia memohon kepada salah seorang dosen yang kenal akrab dengannya untuk dicarikan pekerjaan. Dia ditawari untuk menjadi konsultan di perusahaan Kereta Api di Madiun. Pekerjaan tersebut diterima dan dijalankannya dengan sungguh-sungguh. Pada awal mula bekerja, sempat muncul perasaan kurang puas dengan profesinya saat itu. Atas dorongan sang Dosen, Dja’far bertahan untuk melaksanakan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya.
Senin, 07 April 2008
Spiritualitas dan Karya Tulis KH. Muhammad Baqir (bag. 4)
Sementara kedekatan spiritualnya dengan masyarakat ditandai dengan pembacaan kitab Ibanatul Ahkam (Syarh Bulughul Maram) dan kitab Majalisus Saniyah setiap malam selasa ba’dal Isya’ di masjid, serta dalam banyak kesempatan selalu berusaha mengayomi dan memberikan tausiyah kepada masyarakat.
Sebagai seorang pengasuh pesantren yang setiap hari berjumpa dengan para santri di meja belajar, KH. Muhammad baqir Adelan memiliki kepedulian yang sangat intens terhadap pelajaran-pelajaran apra santri. Terbukti, di tengah-tengah kesibukannnya mengembangkan bisnis, berorganisasi dan mengayomi masyarakat, beliau masih sempat membuahkan beberapa karya tulis, meskipun hanya digunakan di tingkat lokal. Di antara kitab-kitab karyanya adalah, Attaysiir Wattabyiin Limaqoosidi Alfoyyah ibni Malik yang dikerjakannya sejak tahun 158 M. kitab ini berisi penjelasan yang memudahkan para santri untuk memahami maksud nadhom-nadhom dalam Alfiyyah ibnu Malik.
Karya lainnya adalah kitab Syarah Asma’ul Husna, menguraikan makna yang terkandung dalam Asmaul Husna (99 Asma Allah) dengan menukil pendapat para ulama besar. Tashilul Mubtadi’ fi Ilminnahwil ’Imrithi yang ditujukan untuk mempermudah para santri mempelajari gramatika dasar bahsa Arab. Kitab Imrithi adalah kitab standar dasar pelajaran gramatika Arab di pesantren-pesantren Jawa. Serta kitab Khasyiyah Uqdatul farid fi ’Ilmil Faraidh, karya ini menunjukkan bahwa KH. Muhammad Baqir Adelan adalah sosok ulama yang mumpuni. Banyak ulama di Jawa yang meyakini bahwa ilmu faraidh (ilmu pembagian harta waris menurut syariat Islam) adalah ilmu langka yang hanya dikuasai secara mumpuni oleh ulama-ulama khusus saja. Ilmu faraidh adalah salah satu ilmu yang akan dicabut oleh Allah sejak awal sebelum kedatangan kiamat kubro.
Setelah mengarungi sedemikian banyak kisah perjalanan kehidupan, KH. Muhammad Baqir Adelan berpulang ke rahmatullah pada hari Senin tanggal 15 Mei 2006. semoga Allah menjadikan kemandirian dan kesabarannya sebagai inspirasai dan teladan bagi generasi penerusnya. Amin.
*Disarikan dari laporan penelitian Siddiq Abdur Rozzaq dan Nur Indah Kurniawati bertajuk “Etos Kemandirian Kaum Santri: Studi tentang Kewirausahaan KH Moh Baqir Adelan dari Lamongan”.
Konsep Bisnis KH Baqir Adelan (bag. 3)
Pertama, realistis, yakni hanya mengerjakan pekerjaan sebatas kemampuan keuangan perusahanaan dan order yang diterima. Bila menerima pesanan yang tidak mampu dijalankan maka perusahaan akan menolak order ini.
Kedua, amanah dan konsisten, dengan memberlakukan harga tetap sesuai kesepakatan awal meskipun harga bahan baku ternyata naik di tengah-tengah pengerjaan order. UD. Barokah Sejati juga senantiasa menjaga kualitas barang produksinya, menjaga kualitas pekerjaan para karyawannya sehingga tidak mengecewakan pelanggan.
Ketiga, hati-hati, teliti dan berani, perjanjian-perjanjian kontrak jual beli disesuaikan dengan aturan-aturan yang berlaku dalam hukum fikih. Karena pengalamannya yang matang, KH. Baqir Adelan adalah sorang yangsangat teliti dalam menaksir harga-harga bahan baku dan biaya pembuatan sebelum menaksir biaya pemesanan yang harus dibayarkan oleh klien/konsumen.
Di sisi lain UD. Barokah Sejati tidak pernah minder untuk bersaing dalam memenangkan tender lelang berhadapan dengan badan usaha-badan usaha lain yang lebih besar.
Keempat, adil dan kooperatif, dengan menyelesaikan pesanan sesua waktu yang disepakati. Selalu mendahulukan pengerjaan order yang lebih dahulu disepakati meskipun ada lagi order yang lebih tinggi nilainya, dan bahkan jika meninggalkan deposit (uang muka) lebih besar dari yang terdahulu.
Selain mengasuh pesantren dan menjalankan usaha dagangnya, KH. Baqir Adelan juga aktif dalam berbagai kegiatan NU di wilayahnya. Tercatat Beliau adalah salah satu pelopor berdirinya NU di tengah semakin menguatnya hegemoni Masyumi di wilayah Paciran pada tahun 1965 M. Dipercayai sebagai ketua Kortan Ma’arif MWC NU kecamatan Paciran (1967-1975). Wakil Rois Suriah PCNU kabupaten lamongan (1982-1992). Rois Suriah PCNU Lamongan (1992-2002). Mustasyar PCNU Lamongan (2002-2005). A’wan Suriyah PWNU jawa Timur sejak 1993 dan Ketua Suriah PCNU lamongan (2005 hingga meninggal tujuh bulan sejak dilantik). Sementara di luar NU, KH. Baqir Adelan juga turut dipercaya sebagai Ketua MUI Lamongan, Penasehat Bazis Lamongan dan jabatan-jabatan kehormatan lainnya.
KH MUHAMMAD BAQIR ADELAN: Mengembangkan Pesantren Keluarga* (bag.2)
Selanjutnya KH. Baqir Adelan mulai menumpahkan seluruh kehidupannya untuk mengabdi kepada masyarakatnya melalui jalur pendidikan keagamaan (pesantren). Namun hal ini bukan berarti membuatnya meninggalkan dunia yang telah dirintisnya dari awal, yakni dunia usaha. Toh, sebagai seorang pengasuh pesantren kemandirian pribadinya tetap terlihat, hal ini terbukti bahwa sebagai seorang pengasuh pesantren, KH. Baqir Adelan masih selalu menyempatkan diri untuk mencuci sendiri baju-bajunya.
Kepeduliannya kepada kehidupan keseharian santri diwujudkan dalam didikannya untuk terjun langsung membangunkan para santri ketika subuh dan memantau satu persatu perkembangan para santrinya, serta secara rutin mengunjungi kantor-kantor lembaga yang dipimpinnya agar para santri tetap dapat mengikuti sekolah dengan baik.
Ia kemudian berusaha mengembangkan bisnisnya untuk menunjang pembiayan pesantren yang diasuhnya. Membentuk forum silaturrahim berbungkus arisan bagi masyarakat dalam rangka menjaga keharmonisan hubungan antara pesantren dengan masyarakat. Kegiatan ini diikuti leh seluruh nelayan di wilayah pesisir utara Lamongan. Kesempatan ini, bagi KH. Baqir Adelan dapat berfungsi ganda, yakni sebgai media dakwah sekaligus mengembangkan jaringan bisnis di antara sasama nelayan dan warga pesantren.
Semakin bertambah usianya, semakin banyaklah pengalaman hidupnya, dan berkembang pula naluri bisnis yang telah diasahnya sejak kecil. Setelah pulang kembali ke Paciran, ia melebarkan sayap usahanya dengan membuka pelayanan pemesanan kitab-kitab bagi madrasah di lingkungan LP Ma’arif Kortan Paciran pada tahun 1958-1975 M.
Kelihaiannya berbisnis semakin tampak tatkala ia melakukan ekspansi dagang di bidang kayu jati. Pada mulanya memang hanya untuk menyediakan bahan baku bagi pembuatan bangku-bangku dan peralatan sekolah. Namun usaha ini kemudian terus berkembang hingga pada tahun 1975 berdirilah usaha meubeler bernama UD. Barokah Sejati yang bergerak di bidang penyediaan kayu jati sebagai bahan baku pembuatan perahu nelayan.Beberapa tahun kemudian, selain sebagai ulama pengasuh pesantren, KH. Baqir Adelan juga terkenal sebagai pengusaha kayu. Terutama ketika kemudian, mertuanya, H. Mas’ud, memiliki ide kontroversial, yakni menginginkan agar KH. Baqir Adelan mengembangkan pembuatan jenis perahu baru bagi nelayan setempat. Sebuah model perahu nelayan semi modern sebagai produk baru usaha dagangnya. Sebuah perahu bermesin tempel dan bergardan untuk menarik pukat di bagian belakang.
Ide ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakatnya, karena selama ini para nelayan setempat hanya menggunakan perahu tradisional untuk mencarai nafkah. Masyarakat menganggap bahwa perahu model barunya hanyalah sebuah usaha yang sia-sia. Namun anggapan ini tidaklah membuatnya surut dan mengurungkan niat. Ia tetap teguh meneruskan usahanya, hingga akhirnya kegigihannya berbuah. Kini hampir semua nelayan di pesisir Lamongan menggunakan perahu jenis ini. UD. Barokah sejati yang dirintisnya pun semakin berkembang dan tentu saja sebagian labanya digunakan untuk mengembangkan Pesantren Tarbiyatut Tholabah asuhannya yang terus berkembang.
KH MUHAMMAD BAQIR ADELAN: Berwirausaha untuk Membiayai Pesantren* (bag.1)
Sejak zaman-zaman awal kedatangan Islam ke pulau Jawa, di kawasan ini banyak sekali didirikan lembaga pendidikan pesantren. Penduduk hidup dalam suasana religius dan berjiwa bebas. Maka demikian pulalah suasana dan psikologi penduduk di Paciran, Lamongan Jawa Timur, tanah kelahiran KH. Muhammad baqir Adelan, pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah, Paciran, Lamongan.
Di sebuah desa yang terletak di pesisir Utara Jawa Timur, tepatnya di Desa Kranji, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, pada tanggal 30 Agustus 1934 M. bertepatan dengan tanggal 19 Jumadil Ula 1354 H. lahirlah seorang bayi mungil yang diberinama Baqir, sebagai putera keenam dari duabelas bersaudara buah perkawinan KH. Adelan bin Abdul Qodir Kranji dengan Nyai Hj. Sofiyah binti KH. Musthofa.
Anak ini kemudian tumbuh dan menikmati masa kanak-kanaknya dengan dikaruniai kecerdasan yang melebihi teman-teman sepermainannya. Karena situasi dan psikologi masyarakat Pantura yang bebas dan berkemandirian, maka ia pun memiliki keberanian dan bakat-bakat wira usaha sejak kecil.Memulai pendidikan pertamanya dengan ngangsu ilmu langsung dari Ibunda tercintanya, Hj. Nyai Shofiyah dan neneknya, Nyai Aminah Sholeh, lalu pada pamannya, KH. Abdul Karim dan kemudian memeperdalam bekal ilmu dasar dari Kakeknya KH. Musthofa Abdul Karim.
Sejak usia tujuh tahun, Baqir kecil juga belajar di pendidikan formal, Madrasah Tarbiyatut Tholabah Kranji yang dipimpin oleh pamannya, KH. Abdul karim Musthofa selama empat tahun. Untuk kemudian melanjutkan pendidikannya di Madrasah Muallimin Desa Tunggul Paciran pada tahun 1940-1944 M. di bawah pimpinan ulama pejuang, KH. Muhammad Amin Musthofa.Karena bekal pendidikannya yang seperti ini maka tak heran jika sejak usia empat belas tahun ia telah dipercayai oleh gurunya untuk ikut mengajar di pesantren dan turut berdakwah di masyarakat.
Dari Madrasah Muallimin Tunggul paciran inilah, Muhammad Baqir mulai dipercaya untuk mencoba menularkan ilmunya kepada masyarakat.Namun karena dirasa bekalnya belum mumpuni, maka ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang pada tahun 1952 M. yang saat itu diasuh oleh KH. Abdul Jalil. Satu hal di antara kelebihannya ketika masih berstatus santri di Tambakberas ini adalah jiwa kewirausahaannya yang mulai tumbuh. Karena diterima di kelas lima (rata-rata siswa lain diterima di kelas empat), maka ia hanya membutuhkan waktu dua tahun untuk menamatkan tingkat Ibtidaiyah. Karena ingin mandiri, setelah menamatkan tingkat Ibtidaiyah, ia pun pindah dari asrama dan tinggal di Desa Bulak sembari tetap mengaji di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.
Di Desa Bulak inilah ia memulai kemandiriannya dengan menjalani usaha kecil-kecilan berupa jual-beli hasil bumi penduduk di desa-desa sekitarnya. Hasil usahanya ini bahkan telah dapat digunakan untuk membantu orang tuanya membiayai pendidikan adik-adiknya. Setahun kemudian ia meneruskan pendidikannya dengan belajar kepada KH. Bisri Sansuri di Pesantren Manbaul Ma’arif Denanyar Jombang selama empat tahun kemudian. Selain mengaji Baqir yang telah menjadi seorang ustadz muda ini, juga turut dipercaya untuk membantu mengajar di pesantren Manbaul Ma’arif ini.
Blog Archive
Popular Posts
-
Assalamu'alaikum Wr Wb Update hasil TM Fesban Nusantara 8 di ponpes Tarbiyatut Tholabah. Yg diselenggarakan Wasiat Jakarta. JUKLAK (P...
-
COPAS FB KH. SALIM AZHAR DIALOG MENGGELITHIK KAPAN MLETHE'E JARAK Ustadz muda diundang ngaji di desa Gunungan Grabakan Tub...
-
ππWelcome Oktober!!!ππ πDatang dan Meriahkan!!!π π« *Terbuka untuk umum*π« Dalam rangka memeriahkan Milad ke-28, *Him...
-
*No Urut Tampil Festival Hadrah Nusantara VIII* DI PP. TARBIYATUT THOLABAH *SHIFT 1 (15.30 - 17.30)* 1. AL MUHIBBIN JR 2. AL HAROMAIN 3...
-
Bagi sahabat-sahabat yang ingin kuliah, namun kesulitan dalam hal pembiayaan, ada salah satu solusi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab...
-
Oleh: Drs. H. Hamid Syarif, MA* Pada awalnya, para the founding father pondok pesantren; kiai, ulama, masyayikh, dan asatidz mendirikan atau...
-
Malam tadi (25/09/08), saya nginep di rumah Cak Ud, di Ruko Prima Ciputat. Saya hendak konfirmasi mengenai pembicara seminar (Pak Hamid Syar...
-
Salah satu tradisi agung yang diwariskan Muhammad Saw adalah ber-tahannuts, atau biasa diartikan sebagai tabarrur, melakukan perbuatan ba...
-
Asslamualaikum wr wb. Selamat sore kluarga besar WASIAT JAKARTA. Sehubungan dengan memperingati 6 hari wafatnya cak Millah hasan. Mari kita...
