web 2.0

Selasa, 03 September 2013

Wasiat Siap Gelar Lomba Agustusan

Kebiasaan warga WASIAT tiap Agustus adalah menggelar aneka lomba Agustusan untuk warga Wasiat. Untuk tahun ini, kegiatannya mundur di bulan September 2013. Tak lain disebabkan bulan Agustusan bersamaan dengan Ramadhan, dilanjutkan dengan libur Idul Fithri. Sehingga kegiatan digelar awal bulan September.

Rencananya, lomba Agustusan WASIAT akan digelar hari Minggu, 8 September 2013 di Graha Paramuda Jl. Otista Raya Ciputat.

Rabu, 31 Juli 2013

Konteks Lailatul Qadar*



M. Ulinnuha Husnan


Lailatul qadar adalah peristiwa luar biasa dan penuh misteri. Banyak kejadian mahadahsyat yang berlangsung di malam itu. Salah satunya yang paling fenomenal adalah proses penurunan Al-Quran kepada Nabi Muahammad Saw. Data-data teologis dan historis merekam kejadian itu (lihat misalnya QS. Al-Qadr [79]:1-5; QS. Ad-Dukhân [44]: 4-5), sehingga tak ada tempat bagi umat manusia untuk meragukan atau bahkan mendustakannya.

Kemahadahsyatan lailatul qadar itu terlihat secara tekstual misalnya pada kata lailatul qadr yang diulang sampai tiga kali dalam surat Al-Qadr. Karena status dan kedudukannya yang begitu agung, tak berlebihan bila Rasul Saw kerap memerintahkan kepada diri, keluarga dan umatnya agar selalu memperbanyak amal saleh dan ibadah pada malam itu (lihat misalnya, hadis riwayat Bukhari Muslim dari ‘Aisyah dan Abû Sa’îd al-Khudri).

Jumat, 19 Juli 2013

Tahannuts di Bulan Ramadhan

Salah satu tradisi agung yang diwariskan Muhammad Saw adalah ber-tahannuts, atau biasa diartikan sebagai tabarrur, melakukan perbuatan bajik (birr) dengan memberi makan fakir miskin, atau ta‘abbud (beribadah), atau keduanya, yakni tabarrur dan ta‘abbud. Selama dalam tahannuts, Nabi Muhammad melakukan renungan-renungan mendalam.

Yang direnungkannya tidak diragukan lagi adalah masalah-masalah tentang Tuhan, Pencipta yang Mutlak dan Pemelihara alam semesta, serta tentang ciptaan-Nya –khususnya masalah-masalah kemasyarakatan manusia: disparitas sosio-ekonomik, praktek-praktek niaga para pedagang kaya yang eksploitatif dan amoral, serta cara penghamburan kekayaan yang tidak bertanggungjawab dalam kaitannya dengan nestapa fakir miskin, yatim piatu dan orang-orang tertindas, seperti tercermin dalam praktek masyarakat Quraisy.

Kamis, 24 Januari 2013

Grup Hadrah Rafifur Rahmat dari Banjarmasin Juarai Festival Lomba Hadrah Nusantara IV

LAMONGAN – Grup hadrah Rafifur Rahmat dari Banjarmasin Kalimantan Selatan tampil sebagai juara 1 pada Festival Lomba Hadrah Nusantara IV yang digelar di pondok
pesantren Tarbiyatut Tholabah.

Pengumuman pemenang dan pembagian piala dilakukan pada acara puncak Haul KH Musthofa dan Maulid Nabi Muhammad SAW di pondok pesantren tersebut, Minggu (20/1) malam.

Posisi juara kedua diraih oleh grup hadrah Syauqul Muhibbin dari Suci Gresik, dan juara ketiga dipegang oleh Isyqul Musthofa juga dari Suci Gresik. Penampilan tiga grup hadrah ini pada festival yang digelar Wadah Silaturrahmi Alumni Tarbiyatut Tholabah (Wasiat) dan Duta Masyarakat, memang mampu memukau para penonton dan dewan juri.

Aku ingin kembali menjadi Seorang Santri

Ya Rasulullah, aku ingin menatap kembali Tarbiyatut Tholabah
Di tanah Kranji yang penuh dengan percikan hikmah
Yang selalu dikejar-kejar oleh ibadah
Lima waktu penuh sembayang berjama’ah
Untuk menyusuri rahmat Agung Allah
Tak lupa pundakku yang terangkul oleh sajadah

Tapi, masihkah santri lebih mengagungkan secerca barokah
Menuangkan jomberan-jomberan bau busuk ke dalam wadah,
Berlomba-lomba babatin rumput dan menyodorkan tangan ke dalam tong sampah
Ataukah lebih suka menyalakan korek api bersembunyi sambil berjama’ah

Ya Rasulullah, aku ingin kembali ke Pondok Kranji
Berboyong-boyong di asrama al-Maghribi
berbaur dan bertabur ilmu dengan para santri
Memakai Sarung, baju Taqwa dan Peci
Seolah bergaya memegang kitab kuning dihadapan kiyai
Layaknya seorang santri pergi mengaji

Oh Kranji, masihkah santri suka memanjangkan kukunya
Supaya lebih rajin lagi menggaruk-garuk sarang lebahnya
Ataukah ke arah kulit yang dibaluti korengnya
Namun, semua itu tidak mempunyai arti apa-apa

Oh Kranji, aku sungguh sangat rindu
Saat ini, bagaimana kabarmu?
Akankah kau yang sekarang seperti dulu?
Yang menengok warisan ulama masa lampau
Ataukah kau lebih memilih membuat gembong pembaharu
Membentuk santri berpose tawadu’ di muka guru
Dan ataukah kau... kau... dan kau lebih suka memuaskan egomu

(Ditulis tanggal 20/10/2013)


Blog Archive

Popular Posts